Menjadi Guru yang "Baik" itu susah

9 September 09

Begitulah kata seorang bapak yang menunggu brosurnya jadi di cetak di pecetakan ATA kemarin malem. Kenapa pak? tanyaku menyelidik. Tarikan nafas panjang bapak itu menunjukkan dia berat untuk mengutarakan apa yang ada dibenaknya tentang ungkapan guru yang “baik” itu, mungkin. Terlepas dari pengertian guru yang sebenarnya, ternyata bapak itu tahu kalo saya dari Unnes eks IKIP yang memang kampus pencetak pengajar yang belum tentu guru sampai saat ini. Entah dari siapa beliau bisa tahu kalo saya kuliah di Unnes mungkin dia telah berbincang dengan pemilik percetakan tentang kencan saya mau ambil pamflet publikasi cybergame competition untuk acara Road to Unnes ICT Week 2009.

Kembali aku menegaskan tanyaku, kenapa pak? bapak itu menoleh kepadaku dan bertanya “kamu ambil murni atau fkip?” dengan lantang aku jawab “fkip pak” walaupun sebenernya aku di MIPA tapi ambil kependidikan. Selanjutnya beliu bertutur kembali bahwa jadi guru yang baik itu susah. Susah karena kita harus bener-bener menjadi digugu lan ditiru atau jadi panutan, susah karena kita harus mengendalikan diri, susah karena kita harus mempertanggungjawabkan apa yang kita sampaikan, jika salah akhiratlah taruhannya.
Tapi, dia kembali menarik nafas panjang tapi dibarengi dengan sungingan kecil di bibirnya, beliau berkata dengan suara yang lebih jelas dari perkataannya yang sebelumnya “memang sungguh mulia seorang guru itu” tandasnya. Aku yang dari tadi memperhatikan dengan seksama sudah bisa menarik kesimpulan bahwa beliau adalah seorang guru dan aku pun tak perlu menanyakan tentang hal itu kepadanya. Tiba-tiba, beliau bertanya “Apakah kamu sudah siap saat kamu lulus dan dikandidatkan jadi seorang guru?” Pertanyaan ini menggangguku tapi masak sebagai lawan bercakap saya tak menjawab pertanyaan itu.. “Siap pak”, jawabku.. Rupanya beliau heran dengan jawabanku yang memang kubuat mantap karena aku punya alasan jika ditanya lagi.. dan ternyata benar beliau bertanya “Kenapa kamu begitu PD?”.”Kalau cuman kandidat saya sudah siap pak..” jawabku.
Percakapan jadi hangat saat segelas jus jambu dan teh hangat di suguhkan Bu Soma istri pemilik percetakan itu. Beliau membuka lagi percakapan tentang dunia guru yang telah dia tekuni sejak tahun 70 an itu, dan dengan waktu hampir 40 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalaninya. “Saya pernah jadi guru SD, SMP, MTS, SMA sampe STM dan semuanya saya jalani sampe sekarang”, dan tertambat jadi Kepsek di sebuah SD.
Waduh dengan pengalaman yang seabrek kek gitu aja masih bilang susah jadi guru apalagi yang masih belia seperti saya. Benang merah yang dapat diambil adalah memang jadi guru harus mampu digugu lan ditiru, moralnya bagus, mampu mengendalikan diri baik lahir maupun batin, dan memang kadang makan ati saat siswa yang diajar ndak mudeng padahal sudah dijelaskan dengan berbagai cara. Siswa itu kompleks ada yang pendiam, cerewet, setengah-setengah, pemarah, pandai, lumayan padai sampe yang ndak akan pernah mudeng dan semuanya itu berkumpul dalam satu kelas yang harus kita ajar dengan materi yang sama dan mengaharap output yang seragam juga.
Berfikir kreatif dan mengembangkan pembelajaran adalah inovasi yang tepat untuk dunia pendidikan di negeri ini. Salam buat semua guru di Indonesia.

Kita bisa pandai menulis dan membaca karena siapa?
Kita bisa tahu beraneka bidang ilmu karena siapa?
Kita jadi pintar dibimbing pak guru..
Kita jadi pandai dibimbing bu guru.
Gurulah pelita penerang dalam gulita jasamu tiada tara… (dulu nonton di TVRI)

5 responses to “Menjadi Guru yang "Baik" itu susah”

  1. ardlian mengatakan:

    mbrebes ane gan baca tulisan ini…
    mantab… keep bloging gan

  2. rochsid tehape mengatakan:

    hem, sudah pantaskah anda menjadi guru?

  3. hafizah mengatakan:

    salut sama profesi guru, mereka memang patut ijempol, tak bisa diungkapkan seberapa besar perjuangan guru….

  4. It’s actually a great and helpful piece of information. I am
    happy that you shared this helpful information with us.
    Please stay us informed like this. Thank you for sharing.

Tinggalkan Balasan