Pagi hari tadi saya ditunjuk untuk menjadi tentor sebuah pelatihan, tanpa persiapan apapun. Karena materi yang disampaikan cukup mudah dah sudah sangat sering saya gunakan setiap hari maka tak ada kata tidak dengan tugas itu. Pengalaman ini bukan yang pertama tapi memang yang terjadi tadi sangat menantang karena harus menyampaikan materi kepada siswa dengan heterogenitas umur dan intelejensi.
Dibagian depan tampak bapak-bapak berumur dan ibu-ibu di atas 40an dan dibagian lain ada beberapa remaja. Dan inilah masalah akan timbul. Saat saya menyampaikan materi dengan cepat bapak bagian depan akan protes dan saat saya memperlambat penyampaian materi para peserta yang muda yang tak lagi konsen karena merasa sudah bisa. Pertanyaan kembali timbul lebih mudah mana, mengajar siswa dengan heterogen umur atau dengan heterogen intelejensi, dan jawabanya adalah dua-duanya susah.
Telah menjadi tugas guru untuk mengerti kebutuhan semua siswanya, oke.. kitapun bisa berfikir ideal dengan mengelompokkan siswa dengan grade intelejensi yang setara, dengan berbagai cara terserah sang guru, namun kalau kita berbicara pendidikan formal di negara kita apakah itu bisa dilaksanakan? karena pemerataan pemerolehan pendidikan di negara kita memang sangat kurang.
Misalkan di Jawa seorang siswa bisa bersekolah di ruang AC dan berbagai fasilitas sehingga belajar menjadi nyaman dan tentunya penyerapan ilmu semakin mudah sedangkan di tempat lain masih ada saudara kita yang bersekolah dengan dinding terbuka, jangankan nyaman, dari kata amanpun masih jauh.
Kita kembali ke masalah mengerti dan memahami kemauan siswa, karena pengertian belajar adalah proses tingkah laku individu yang dapat mengubah perilaku menjadi individu yang lebih baik. Berarti belajar akan bermula dari individu itu sendiri asalkan ada perubahan ke yang lebih baik maka sudah bisa disebut belajar tanpa harus memenuhi kriteria yang memberatkan siswa, saya tidak mengatakan target minimal itu buruk namun pertimbangan psikologis lebih perlu.
Sudah saatnya pendidikan kita meramu sebuah konsep atau program yang dapat mengakomodasi kebutuhan siswa dan memenuhi kebutuhan tersebut dan mungkin akan lebih baik kita keluar dari tatanan yang sangat formal ini, ingat sekali lagi yang saya tekankan adalah dampak kriteria minimal yang secara langsung memberikan keresahan kepada kebanyakan siswa. Mari kita ciptakan sebuah sistem pendidikan yang membuat siswanya merasa butuh menuntut ilmu bukan merasa wajib menuntut ilmu.
Satu pertanyaan untuk para pendidik, apakah anda punya ide?
Saya punya ide, Mas. Bagaimana kalau sesekali diadakan semacam dharmawisata tukar sekolahan. Anak-anak dari sekolah kere diajak merasakan sekolah elite dan sebaliknya. Mungkin hasilnya, anak-anak sekolah elite akan tahu bersyukur dengan apa yang ada padanya; dan anak-anak dari sekolah kere termotivasi untuk mengejar status elite (dan maksa orang tuanya spy nyekolahin di sekolah elite) atau bagi yang kompetitif akan bertekat mengalahkan anak-anak sekolah elite. Tapi mungkin juga jadi semakin minder…
kalo yang dharmawisata dari yang sekolah elite ke sekolah kere tidak menjadi soal, kalo yang kere ke yang elite mungkin menjadi soal baru karena juga memikirkan biaya?
oi…3hp! gimana kabar u?
bagus juga artikel u. Boleh di tengok nih. sekolah andalan Banten. Daarelqolam islamic boarding school. http://www.daarelqolam.ac.id. semoga terinspirasi.
kabar baik kang,,,, ini kang yasin yang mana ya? hahaha..
iya ntar tak bekunjung kesana..
kancane seng jenenge yasin akeh banget ya? tapi kalo yasin yusuf? sukses terus….maju terus pendidikan indonesia.