Persis dengan judul di atas sebuah artikel dari seorang pustakawan Unpad bernama Yulianti seorang pemerhati pendidikan. Bukan tanpa alasan saya menulis tentang pembentukan karakter kali ini, yah beberapa hari kampus tempat saya bercokol sedang diributkan dengan pemakaian seragam bagi mahasiswa baru dengan salah satu alasan pembentukan karakter.
Pendidikan adalah suatu kesatuan yang menyeluruh dan tugas semua diantara kita, bukan hanya tugas beberapa orang yang terlibat dalam dunia pendidikan formal saja, dosen, bimbingan belajar, guru ataupun sekolah. Ya, karena sekolah dan pendidikan itu merupakan dua hal yang terkait namun sekolah merupakan bagian kecil dari pendidikan maka dari itu pendidikan bukan melulu merupakan transfer materi dari guru ke murid, pedidikan itu luas tak terbatas.
Pendidikan harus berorientasi kepada terbentuknya karakter (kepribadian/jatidiri). Setiap tahapan pendidikan dievaluasi dan dipantau dengan saksama sehingga menjadi jelas apa yang menjadi potensi positif seseorang yang harus dikembangkan dan apa yang menjadi faktor negatif seseorang yang perlu disikapi. Akar dari karakter ada dalam cara berfikir dan cara merasa seseorang. Ini merupakan struktur kepribadian yang natural dan memang sudah menjadi sunatullah. Sebagaimana diketahui, manusia terdiri dari tiga unsur pembangun yaitu hatinya (bagaimana ia merasa), fikirannya (bagaimana ia berfikir) dan fisiknya (bagaimanaia bersikap). Oleh karena itu , langkah–langkah untuk membentuk atau merubah karakter juga harus dilakukan dengan menyentuh dan melibatkan unsur-unsur tersebut.
Proses pembentukan itu sendiri tidak berjalan seadanya, namun ada kaidah-kaidah tertentu yang harus diperhatikan. Anis Matta dalam “Membentuk karakter Muslim” menyebutkan beberapa kaidah pembentukan karakter sebagai berikut :
Kaidah-kaidah pembentukan tersebut di atas diterapkan dalam proses pendidikan sebagai berikut:
Kaidah kebertahapan dan kesinambungan menjiwai keseluruhan proses pendidikan, baik jenjang secara umum (jenjang tingkat dasar,menengah dan atas) maupun proses di tiap jenjang tersebut. Kaidah momentum berkaitan dengan kretaifitas guru/pembimbing dalam memodifikasi setiap moment menjadi lebih bermakna untuk pembentukan pribadi. Kaidah motivasi instrinsik lebih bermain di tahapan “informasi masuk” dan proses “pemahaman”. Bagaimana informasi itu diolah dan ditampilkan sehingga membuat seseorang menjadi faham dan mau melakukan sesuatu dengan sukarela. Kaidah pembimbingan bermain banyak di tahap “manajemen aktivitas”, penyikapan terhadap pemberian reward dan punishment dan evaluasim terhadap proses tersebut. Bagaimana seorang guru/pembimbing memantau proses pembiasaan dan pengulangan terhadap pembentukan karakter tertentu. Proses pendidikan tersebut jelas menggambarkan tujuan akhir pendidikan yaitu membentukkarakter/jadtidiri atau kepribadian.
Social Profile