Pendidikan (Seharusnya) Membentuk Karakter !

28 Agustus 10

Persis dengan judul di atas sebuah artikel dari seorang pustakawan Unpad bernama Yulianti seorang pemerhati pendidikan. Bukan tanpa alasan saya menulis tentang pembentukan karakter kali ini, yah beberapa hari kampus tempat saya bercokol sedang diributkan dengan pemakaian seragam bagi mahasiswa baru dengan salah satu alasan pembentukan karakter.
Pendidikan adalah suatu kesatuan yang menyeluruh dan tugas semua diantara kita, bukan hanya tugas beberapa orang yang terlibat dalam dunia pendidikan formal saja, dosen, bimbingan belajar, guru ataupun sekolah. Ya, karena sekolah dan pendidikan itu merupakan dua hal yang terkait namun sekolah merupakan bagian kecil dari pendidikan maka dari itu pendidikan bukan melulu merupakan transfer materi dari guru ke murid, pedidikan itu luas tak terbatas.
Pendidikan harus berorientasi kepada terbentuknya karakter (kepribadian/jatidiri). Setiap tahapan pendidikan dievaluasi dan dipantau dengan saksama sehingga menjadi jelas apa yang menjadi potensi positif seseorang yang harus dikembangkan dan apa yang menjadi faktor negatif seseorang yang perlu disikapi. Akar dari karakter ada dalam cara berfikir dan cara merasa seseorang. Ini merupakan struktur kepribadian yang natural dan memang sudah menjadi sunatullah. Sebagaimana diketahui, manusia terdiri dari tiga unsur pembangun yaitu hatinya (bagaimana ia merasa), fikirannya (bagaimana ia berfikir) dan fisiknya (bagaimanaia bersikap). Oleh karena itu , langkah–langkah untuk membentuk atau merubah karakter juga harus dilakukan dengan menyentuh dan melibatkan unsur-unsur tersebut.
Proses pembentukan itu sendiri tidak berjalan seadanya, namun ada kaidah-kaidah tertentu yang harus diperhatikan. Anis Matta dalam “Membentuk karakter Muslim” menyebutkan beberapa kaidah pembentukan karakter sebagai berikut :

  1. Kaidah kebertahapan
    Proses pembentukan dan pengembangan karakter harus dilakukan secara bertahap. Orang tidak bisa dituntut untuk berubah sesuai ang diinginkan secara tiba-tiba dan instant. Namun ada tahapan-tahapan yang harus dilalui dengan sabar dan tidak terburu-buru. Orientasi kegiatan ini adalah pada proses bukan pada hasil. Proses pendidikan adalah lama namun hasilnya paten.
  2. Kaidah kesinambungan
    Seberapa pun kecilnya porsi latihan, yang penting bukanlah di situ, tapi pada kesinambungannya. Proses yang berkesinambungan inilah yang nantinya membentuk rasa dan warna berfikir seseorang yang lama-lama akan menjadi kebiasaan dan seterusnya menjadi karakter pribadinya yang khas.
  3. Kaidah momentum
    Pergunakan berbagai momentum peristiwa untuk fungsi pendidikan dan latihan. Misalnya Ramadhan untuk mengembangkan sifat sabar, kemauan yang kuat, kedermawanan, dan sebagainya.
  4. Kaidah motivasi instrinsik
    Karakter yang kuat akan terbentuk sempurna jika dorongan yang menyertainya benar-benar lahir dari dalam diri sendiri. Jadi, proses “merasakan sendiri”, “melakukan sendiri” adalah penting. Hal ini sesuai dengan kaidah umum bahwa mencoba sesuatu akan berbeda hasilnya antara yang dilakukan sendiri dengan yang hanya dilihat atau diperdengarkan saja. Pendidikan harus menanamkan motivasi/keinginan yang kuat dan “lurus” serta melibatkan aksi fisik yang nyata
  5. Kaidah pembimbingan
    Pembentukan karakter ini tidak bisa dilakukan tanpa seorang guru/pembimbing. Kedudukan seorang guru/pembimbing ini adalah untuk memantau dan mengevaluasi perkembangan seseorang. Guru/pembimbing juga berfungsi sebagai unsur perekat, tempat “curhat” dan sarana tukar pikiran bagi muridnya.

Kaidah-kaidah pembentukan tersebut di atas diterapkan dalam proses pendidikan sebagai berikut:
Kaidah kebertahapan dan kesinambungan menjiwai keseluruhan proses pendidikan, baik jenjang secara umum (jenjang tingkat dasar,menengah dan atas) maupun proses di tiap jenjang tersebut. Kaidah momentum berkaitan dengan kretaifitas guru/pembimbing dalam memodifikasi setiap moment menjadi lebih bermakna untuk pembentukan pribadi. Kaidah motivasi instrinsik lebih bermain di tahapan “informasi masuk” dan proses “pemahaman”. Bagaimana informasi itu diolah dan ditampilkan sehingga membuat seseorang menjadi faham dan mau melakukan sesuatu dengan sukarela. Kaidah pembimbingan bermain banyak di tahap “manajemen aktivitas”, penyikapan terhadap pemberian reward dan punishment dan evaluasim terhadap proses tersebut. Bagaimana seorang guru/pembimbing memantau proses pembiasaan dan pengulangan terhadap pembentukan karakter tertentu. Proses pendidikan tersebut jelas menggambarkan tujuan akhir pendidikan yaitu membentukkarakter/jadtidiri atau kepribadian.

SUMBER

2 responses to “Pendidikan (Seharusnya) Membentuk Karakter !”

  1. he said says:

    On your flyer, create a very captivating message with the use of images. Promotional gifts are given by a company to their clients to strengthen the bond they hold with each other. Professionals are already marketing themselves and their business with newsletters, brochures, press kits, Powerpoint presentations, press releases, and whatever else they can think of to make themselves known.

  2. I know this website presents quality based posts and extra material, is there
    any other site which gives these kinds of information in quality?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *